Wednesday, March 28, 2007

Think Like a Child

Sasha, anak saya yang pertama, punya sebuah “buku
impian” yang ditulis diam2 di kamarnya. Kemarin, saya
memperoleh privilege untuk membaca buku impian nya.
Dan saya cukup kaget dengan apa yang ditulis anak
saya. Isinya dahsyat. Mulai dari nama SMP favorit
(dengan tulisan besar2 dibawahnya: Diterima!), nilai
yang ingin dicapai lulus SD nanti, dengan siapa dia
ingin menikah (ya, padahal dia baru 11 tahun),
keinginan punya pesawat terbang sendiri, rumah di
Hollywood dan Itali, bahkan dicantumkan juga punya
uang sebesar $ 96 trilyun. Ya, dia menulis dalam
dollar dan nol dua belas. Bapak nya saja tidak berani
bermimpi se-dahsyat itu. Hampir saja saya nyletuk:
“Emang kamu siapa? Paris Hilton?”

Saya jadi teringat cerita ikon internet marketing
Indonesia, Anne Ahira, sewaktu mengikuti seminar
internet marketingnya beberapa waktu lalu. Ahira kecil
juga adalah pengkhayal yang hebat. Saking ingin nya
keliling dunia, ia pernah menempelkan foto diri nya di
kalender yang berisi gambar2 kota dunia. Jadi waktu
kecil Ahira sudah punya “foto” dirinya didepan obyek
wisata dunia, seperti misalnya di depan Golden Gate,
Menara Eiffel, dsb. Gambar-gambar tadi di fotocopy dan
ditempel di dinding. Ahira kecil ngotot, sekalipun Ibu
nya mencoba meyakinkan bahwa keliling dunia hanyalah
mimpi bagi anak seorang buruh pabrik dan penjual
gado-gado.

Dan belakangan, Ahira dan Ibu nya menangis terharu
setelah melihat foto Ahira yang dimuat di Kompas yang
menggambarkan dia sedang di depan Golden Gate. Pose
nya sama persis dengan foto khayalan Ahira sewaktu
kecil. Luar biasa. Thoughts become Things.

Pikiran anak-anak memang sangat jernih. Saya yakin
sewaktu kecil kita semua berani bermimpi dengan segala
kepolosan kita. Tanpa ada ketakutan-ketakutan apakah
mimpi kita akan menjadi nyata atau tidak. Barangkali
konsep-konsep seperti: berpikir positif, law of
attractions, dsb. sebenarnya sudah diinstall oleh
Tuhan di otak kita semua sejak kita lahir. Hanya
lambat laun pikiran jernih tadi hilang. Hingga saat
kita dewasa, seringkali sangat sulit untuk diinstall
ulang.

Anak-anak berpikir dengan cara yang berbeda dengan
kita. Ada sebuah cerita, seorang konsultan yang sedang
membantu memecahkan masalah di sebuah perusahaan yang
sudah listed di bursa suatu ketika ikut menghadiri
manajemen meeting untuk memecahkan suatu masalah. Sang
konsultan membuat sebuah titik di papan tulis. Dan
bertanya:“gambar apa ini?“. Seluruh anggota manajemen
kompak dengan jawaban:“sebuah titik hitam di papan
tulis putih“. Sang konsultan tiga kali mengulang
pertanyaan yang sama, dan mendapat jawaban yang sama.
Sang konsultan pun geleng-geleng kepala.“Kemarin saya
menanyakan pertanyaan yang sama di sebuat TK, dan
mendapat 50 jawaban yg berbeda...“ Ya, bagi anak-anak,
titik hitam tadi dapat menjadi mata seekor burung,
bola semut, lalat nemplok, dsb. Kreatifitas para
pemimpin puncak perusahaan tadi kalah jauh dengan anak
TK. Padahal kreatifitas sangat diperlukan dalam
memecahkan masalah.

Tidak heran jika Picasso sampai pernah berkata: "Every
child is an artist. The challenge is to remain an
artist after you grow up". Ya, pelan-pelan kita
berubah menjadi orang dewasa dengan meniadakan
kehebatan cara berpikir anak-anak yang super kreatif
itu.

Menurut pengamatan saya, anak-anak ternyata selalu
menerapkan 3B yang seringkali sudah kita lupakan:

Berimajinasi
Anak-anak adalah gudang nya imajinasi. Hari ini mereka
bisa menjadi guru, besok menjadi perawat, besok lagi
menjadi pembalap, dsb. Hari ini bisa perang-perangan
di tengah hutan, besok bisa di dalam pesawat angkasa.
Imajinasi ternyata sangat penting dalam dunia
pemasaran. Saya teringat cerita salah seorang teman
saya yang pekerjaannya seorang marketer. Sebelum
merumuskan strategi marketing. Bahkan jauh pada saat
produk baru sedang di rumuskan, tim mereka
berimajinasi. Misalnya dengan membayangkan bahwa
produk tadi adalah sesosok manusia. Berapa umurnya,
apa hobby nya, pekerjaanya, kemana kalau “hang-out”,
minumnya apa, makanya apa, dst. Ini yang kemudian
menjadi bahan untuk mengembangkan materi-materi iklan.
Karena sudah memiliki imajinasi tentang “karakter“
produk tadi, maka penyusunan program marketing menjadi
lebih mudah.

Buat anak-anak, tidak ada yang tidak mungkin.
Imajinasi mereka spontan dan tidak terlalu memikirkan
“the how” nya. Karena bagi anak-anak semuanya mungkin
terjadi. Justru orang dewasa yang sering “menyabotase”
pikiran jernih mereka dengan kata2: “ah, mana
mungkin”.Bayangkan kalau cara berimajinasi anak-anak
ini kita terapkan dalam menetapkan visi kita kedepan.
Kita tidak akan diganggu dengan pikiran-pikiran
negatif “ah mana mungkin” tadi.

Bermain
Bagi anak-anak semuanya hanyalah permainan. Dengan
demikian tidak ada “masalah” bagi anak-anak. Semua hal
bisa dilihat dari sisi yang menyenangkan. Lihat saja,
sewaktu bencana banjir di Jakarta yang baru lalu,
anak-anak yang justru ceria bermain di tengah banjir.
Anak-anak lebih pandai melihat sisi menyenangkan dari
setiap “persoalan”. Coba kalau ini kita terapkan dalam
keseharian. Betapa “persoalan” akan lebih mudah kita
hadapi. Semua menjadi permainan yang menyenangkan.

Saya dulu punya teman yang hampir putus asa karena
punya banyak hutang. Saya juga sudah bingung mau
ngomong apa. Ketika saya ucapkan kata-kata:” its just
a game man …”, ternyata dia langsung bangkit kembali.
Dia mendapat inspirasi bahwa bisnis yg dia jalani toh
hanyalah permainan. Bahwa skor nya saat ini minus,
hanyalah skor, dan mulai sekarang dia bisa bermain
lebih bagus untuk mendapay skor yang lebih besar. Its
just a game. And its fun!

Belajar
Siapa bilang anak-anak malas belajar. Justru mereka
belajar setiap waktu. Saya pernah baca berita suatu
penelitian di MIT yang menyimpulkan bahwa cara belajar
anak2 itu seperti para scientist. Mereka sangat
tertarik hubungan kausalitas. Bagaimana kalau saya
melakukan ini, apa reaksi nya. Ini adalah dasar
eksperimen. Dan banyak eksperimen yang mereka lakukan.
Bagaimana kalau mobil-mobilan ini ban nya dicopot?
Bagaimana kalau rambut boneka Barbie ini dipotong,
dsb. Rasa ingin tahu yang besar ini, sebenarnya bisa
menjadi pendorong kesuksesan yang luar biasa jika kita
pertahankan hingga dewasa.

Anak-anak belajar secara alamiah untuk menjadi lebih
baik. Seorang bayi yang belajar berjalan, setiap kali
jatuh akan bangkit kembali. Berapa kali seorang anak
terjatuh dari sepeda? Apakah dia akan berhenti dan
meratap. Tidak, dia akan tertawa, bangkit lagi, dan
bersepeda lebih baik. Ini adalah proses belajar yang
luar biasa. Berani mencoba, berani jatuh dan berani
mengevaluasi diri, ini yang sayangnya sering hilang
pada saat kita menjadi manusia dewasa.

Jadi, kalau Anda sekarang adalah anak-anak, Anda mau
menjadi siapa? Menjadi Spiderman? Batman? Donald
Trump? Atau mau jadi Paris Hilton? Selamat
berimajinasi.

Fauzi Rachmanto
http://fauzirachmanto.blogspot.com

saya sangat setuju dengan pak Fauzi, ayo bebaskan impian anda, jangan pernah takut bermimpi, dan lebih afdol lagi jangan hanya cuma bisa mimpi doang.Dreams, Strategi ActionS!!!bermimpilah mempunyai istana setinggi langit, dan berusahakeraslah membangun tangga-tangganya.

No comments: